Memperluas Wadah
Beberapa nasihat dalam suatu pengajian atau kotbah seringkali kita mendengar istilah wadah yang dimiliki tiap-tiap anak Adam. Dengan wadah itu pula, sering digambarkan adakalanya seseorang yang memiliki wadah sangat besar, sehingga kemampuannya menyisihkan rezekinya ibarat air yang nggrojok melimpah sangat banyak. Adakalanya seseorang memiliki wadah yang sedang-sedang saja, namun dia mampu terus konsisten sesuai kemampuannya menyisihkan rezekinya. Namun adakalanya wadah itu kecil, dan juga konsisten menyisihkan rezekinya untuk kemuliaan. Ukuran wadah tersebut telah dimiliki anak Adam yang telah ditentukan olehNya sesuai dengan perkiraanNya juga.
Ya, wadah itu adalah kemampuan rezeki yang berbeda-beda bagi tiap-tiap anak Adam sebagai anugerahNya. Namun adakah cara untuk memperluas wadah yang kita miliki apabila kita mengetahui wadah itu ternyata kecil, sempit, sesak dan tak muat lagi menampung limpahan rezekiNya? Mungkin ada yang bertanya-tanya bukankah ukuran wadah itu telah ditentukan olehNya? Bukankah pula Dia yang mengubah ketentuan itu dengan rasa kasih sayang pada hambaNya?
Tentu saja cara memperluas wadah yang kita miliki terkait ada banyak hal di dalamnya. Namun setidaknya kita tahu bahwa limpahan rezekiNya di dunia ini diberikan bagi siapa saja, baik orang yang tidak beriman maupun orang yang benar-benar diberi kasih sayangNya, dan tentu saja banyak yang mengharapkan kita termasuk menjadi orang-orang yang mendapatkan kasih sayangNya.
Wadah yang besar banyak dimiliki orang-orang yang memiliki keikhlasan dalam melakukan tiap pekerjaannya dengan baik dan cerdas. Makin besar wadahnya, makin besar pula dampak ikhlasnya. Jadi, sangatlah wajar orang-orang yang memiliki wadah yang besar akan mampu menerima pekerjaan-pekerjaan besar dan rezeki yang luas. Sementara bila dipaksakan memberikan pekerjaan-pekerjaan besar kepada orang yang memiliki wadah kecil, maka bisa dipastikan kehancuran atau kegagalan. Intinya, pekerja ikhlas yang bekerja keras dan cerdas ternyata banyak memiliki wadah yang besar.
Berikut tak ada salahnya apabila kita melakukan berbagai usaha dalam rangka memperluas wadah kita agar semakin besar dan luas:
- 1. Lakukan kerja keras dan kerja cerdas dengan sebaik mungkin
Kerja ikhlas yang terbaik, yaitu kerja ikhlas yang memiliki hasil usaha yang optimal, adalah kerja ikhlas yang dilakukan setelah kerja keras dan kerja cerdas. Oleh sebab itu, sempurnakan kerja keras dengan stamina diri, disiplin, keberdayagunaan, dan ketersediaan diri yang tinggi. Kemudian tingkatkan kerja cerdas dengan menaikkan skala, mengefektifkan system, mengkapitalisasi asset, dan membina anggota kerja yang lain.
- 2. Tantang diri untuk naik kelas
Naik kelas artinya berada di orbit prestasi yang lebih tinggi. Maksudnya adalah kemampuan, pola pikir dan cara kerja berada pada titik yang lebih baik, sehingga hasil kerja otomatis juga menjadi baik. Salah satu cara untuk dapat naik kelas adalah dengan menantang diri sendiri mengambil pekerjaan-pekerjaan yang sulit yang membutuhkan kerja lebih keras dan lebih cerdas dari apa yang selama ini telah dilakukan. Pekerjaan yang sulit dan biasanya mengandung resiko lebih tinggi akan memaksa memeras keringat dan otak sampai pada batas maksimal. Dengan demikian, fisik dan kecerdasan akan lebih terlatih.
Semakin sering mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sulit, maka semakin besar wadah kita. Besarnya wadah akan membuat kita bekerja dengan tingkat keikhlasan lebih tinggi. Sebab, kita mampu menampung lebih banyak isi dengan wadah yang kita punyai. Ini berarti kita mampu melakukan banyak pekerjaan dengan mudah, ringan dan tuntas.
- 3. Selalu proaktif dalam segala hal
Seseorang dikatakan proaktif apabila ia mengambil inisiatif untuk bertindak, berpikir positif terhadap apa yang telah terjadi, dan menerima tanggung jawab atas tindakannya. Proaktif adalah lawan dari reaktif. Orang yang reaktif selalu menjadi korban dari lingkungannya. Sebalikya, orang proaktif merespon lingkungannya secara positif, bahkan seringkali mengubah lingkungannya menjadi lebih baik. Lihat lingkungan, gunakan akal dan hati untuk memotret keadaan, kemudian bertanyalah pada diri sendiri “Di bagian mana saya bisa berperan lebih?”. Bila kita adalah karyawan, cari cara dan lakukan sesuatu yang dapat mempermudah pekerjaan atasan atau bawahan, cari cara bagaimana agar perusahaan dapat lebih efisien dan lebih untung, serta cari cara bagaimana membuat suasana kerja menjadi lebih kondusif, dan lain sebagainya.
Kata orang-orang dulu yang sudah banyak makan asam garam, hal-hal seperti diatas ini bisa dirangkum menjadi kata-kata simple dan jelas bagi orang yang sudah mengerti dan paham. Sedang yang belum pernah mendengarnya agak sulit memahaminya, kata-kata simple itu adalah: kerjo mempeng tirakat banter ![]()
Balikpapan, 17 Maret 2007
sa


